Sangat berat rasanya untuk menulis blog kali ini, namun keinginan untuk memvisualisasikan dalam bentuk tulisan apa yang baru saja terjadi dalam hidup ku menguatkan ku. Baru saja aku kehilangan sosok seorang ibu, mamah begitulah biasa aku memanggilnya. Mamah, seorang ibu yang mengandungku selama sembilan bulan dengan susah payah, melahirkan ku dengan mempertaruhkan nyawanya, mendidikku dgn kasih sayangnya, mengajarkan ku ajaran agama Alloh, mamah yang senyumnya sering kali terlintas di benakku, mamah yang senantiasa mengingatkan ku akan solat lima waktu, mamah yang selalu berkata agar memperbanyak sedekah, mamah..mamah..mamah telah tiada. Mamah telah di panggil mendahului ku pada hari Sabtu 25 Februari jam 10 malam. Mamah menghembuskan nafas terakhir di ruang ICU RS Graha Kedoya, Jakarta Barat.
Jujur, saat aku ketik ini aku meneteskan air mata, begitu kental rasa kasih sayang mamah terasa oleh ku. Aku ingat sekali betapa besar perjuangan mamah untuk ku dan kakak adikku. Aku ingat sekali betapa mamah dapat senantiasa mengusap kepalaku sambil membacakan doa di kala migrane terasa di kepalaku, aku ingat sekali betapa lembutnya tangan mamah ketika mamah mengusap kedua kaki ku di kala demam rematikku melanda. Ya, sebagai anak ke dua dari 5 bersaudara akulah yang selalu mengambil banyak waktu mamah ketika kecilku, aku yang sering di dera penyakit a,b dan c. Namun bukan obatlah yang menyembuhkan ku melainkan kehendak Alloh beserta doa dan kasih sayang mamah.
Kini, tujuh hari sudah berlalu dari hari wafatnya mamah. Sering sekali terlintas bayangan mamah dengan senyum nya di benakku, sebuah kenangan indah yang mengharukan. Sungguh betapa air mata tak mampu mengimbangi rasa sedih ku. Sungguh ini adalah waktu terberatku semasa hidupku ini. Sungguh doa dan kasih sayang mamah lah yang membuatku seperti ini.
Mamah, aku sayang mamah. Seberapa besar pun usahaku aku tidak akan sanggup membalas segala kebaikan, kasih sayang dan pengorbanan mamah. Aku minta maaf mah, aku minta maaf karena belum sempat berbakti semaksimal ku ketika mamah masih ada. Kini tiada lagi telpon dari mamah yang menanyakan bagaimana kabarku, tiada lagi telepon mamah yang berkata “mana suara Kayla, oma kangen nih”. Maafkan aku mah..maaf kan aku mah. Terimakasih mah, terimakasih telah menjadi ibu terbaik untukku, terimakasih untuk selalu mendokan ku, terimakasih ..terimakasih. Selamat jalan mamah sayang, selamat beristirahat dengan tenang, doaku selalu menyertai mamah agar senantiasa di tempatkan di sisiNya.

Mamah tersayang sudah berjuang melawan penyakit liver sirosis nya selama 10 tahun, di hari mamah menghembuskan nafas terakhir nya dokter berkata bahwa fungsi paru dan ginjalnya pun sudah terganggu. Foto A diambil pada hari Kamis 23/2/1012 bersama kakak dan adikku, kala itu mamah berada di ruang perawatan biasa, masih dapat bersedekah dengan senyumnya, masih terlihat segar. Namun tidak di sangka kondisi mamah drop dengan cepatnya, foto B diambil di ruang ICU pada hari Jumat 24/2/2012.
